Sabtu, 19 Maret 2011

Banjir Lahar Dingin Merapi Yogyakarta

Daerah terjangan banjir lahar dingin terus meluas.Di kawasan Sleman,Yogyakarta, wilayah yang tertimbun material pasir dan batu tidak hanya di sisi timur dan tengah,kawasan barat yang semula aman juga terkena dampaknya. Di bantaran Sungai Progo,tepatnya di Desa Sedang Agung,Kecamatan Minggir, Sleman, material Gunung Merapi telah menimbun lahan di kanan dan kiri sungai tersebut. Selain mengancam pemukiman dan lahan sekitar bantaran sungai yang berhulu di lereng Merapi, banjir lahar dingin juga mengancam keberadaan Candi Prambanan. Wilayah Candi Prambanan berjarak sekitar 25 kilometer dari puncak Gunung Merapi dan sekitar 100 meter dari Sungai Opak. Jika kembali terjadi hujan lebat di puncak Merapi, Sungai Opak dipastikan akan mengalirkan material vulkanik.

Padahal, saat ini material vulkanik berupa pasir, kerikil, dan batu-batu besar,masih berada di hulu sungai tersebut. Banjir lahar dingin pada Minggu (9/1/11) lalu telah menghanyutkan puluhan rumah dan memutus akses transportasi dari Magelang ke Yogyakarta. Jalur yang menghubungkan dua kota itu tertimbun pasir dan bebatuan.Ketebalan material vulkanik Merapi yang dibawa aliran sungai itu diperkirakan mencapai tiga meter dan panjang 700 meter.

Banjir Lahar Dingin merapi

Pengerukan pasir dan bebatuan baru terlaksana sekitar 40%. Bahkan, warga Jumoyo yang menjadi korban banjir lahar dingin dan mengungsi diharuskan menunjukkan KTP jika ingin menengok rumahnya. Penutupan ini untuk mengamankan barang-barang di rumah milik korban lahar dingin yang ditinggal mengungsi di pengungsian,” paparnya.

Di puncak Merapi saat ini diperkirakan ada tumpukan 150 juta meter kubik material hasil erupsi tempo hari. Pusat Vulkanologi Badan Meteorologi dan Geofisika (PVBMG) memperkirakan, material sebanyak itu tak akan habis terbawa arus dalam 3-4 kali musim hujan.

Banjir lahar dingin kemarin menyebabkan sejumlah daerah terkena dampaknya. Daerah terparah ada di Jumoyo, Sirahan, Prumpung, Adikarto di Kabupaten Magelang dan di Argomulyo Cangkringan Sleman.

Di Muntilan, empat sungai yang berhulu di Merapi meluap. Empat sungai itu meliputi Putih, Lamat, Blongkeng dan Belan. Lahar dingin yang meluap di Putih bahkan kembali memutus jalan Yogya-Magelang akibat tinggi timbunan mencapai dua meter.

Jalur utama yang menghubungkan DIY-Jawa Tengah, yang sebelumnya telah dibersihkan dari tumpukan material, seperti pasir, lumpur dan batu-batu besar, kini putus lagi sepanjang 800 meter. Luapan Putih juga membuat 70-an rumah di Dusun Gempol tertimbun material setinggi lima meter.

Warga Gempol, Yusuf, mengungkapkan banjir lahar dingin yang lebih ganas dibanding banjir-banjir sebelumnya membuat sejumlah kendaraan roda dua dan empat terjebak di jalan Jogja-Magelang. “Ada bus juga yang terjebak,” ungkapnya kepada Harian Jogja.

Relawan Merapi di Desa Srumbung, Kecamatan Srumbung, Ahmad Muslim, mengatakan banjir datang mulai pukul 18.00 WIB sampai sekitar pukul 20.30 WIB. Saat banjir, semua jembatan yang melintasi Pabelan dan Putih ditutup.

Putih juga meluap di Desa Sirahan, Kecamatan Salam. Di desa itu ada puluhan orang yang terjebak di lantai dua rumah Endang di Dusun Salakan. Seorang nenek dilaporkan tewas terkena dampak banjir lahar dingin di rumahya. Selain itu, Puskesmas Sirahan hancur diterjang banjir, satu sapi hanyut dan tujuh rumah di Dusun Sudisardi, Desa Adikarto, Kecamatan Muntilan, hanyut. Tujuh rumah itu berada di tepian Pabelan.

Para pengungsi Banjir lahar dingin kini butuh makanan siap santap (bukan mi instan), selimut, kebutuhan perempuan, bayi, balita dan perlengkapan kebersihan. Jangan kirim pakaian bekas. Kirimkanlah yang terbaik yang kita bisa untuk mereka yang terkena musibah.

0 komentar:

Posting Komentar